Minggu, 17 Februari 2013

Ditinggalkan itu sakit, melepaskan itu sulit dan meninggalkan itu sebuah pilihan


Ditinggalkan itu sakit, melepaskan itu sulit dan meninggalkan itu sebuah pilihan. 
Hidup bagiku tidak pernah memberikan pilihan yang mudah untuk di mengerti.  
Manusia yang datang seperti sebuah kendaraan yang lalu lalang di jalanan. 
Dan aku hanya seorang pejalan kaki yang singgah untuk menikmati secangkir kopi. 
Tegur sapa sesaat sebelum mereka semua pergi dan berlalu. 
Dan aku bangkit dari kursi, kembali melanjutkan perjalanan lalu mencari kedai kopi lainnya untuk menatap kembali kejalan dan mulai melihat pejalan kaki lainnya. 

Sesaat aku teringat kembali akan pilihan ku untuk menerima orang asing untuk masuk ke dalam duniaku yang sudah hancur sebelumnya. Ia datang seperti seorang room design yang berhasil menata kehidupanku. Hanya dalam waktu 1 minggu saja setelah kami bertemu di tempat persembunyianku disalah satu sisi danau Toba. Aku berhasil menatap bahwa kehidupanku akan seperti apa. Semua imajinasi profesionalku perlahan bermunculan. Iya, aku akan menjalani bersama dengan sahabat hatiku ini.  Lalu satu kata yang menyakitkan muncul “ditinggalkan”, sang arsitek harus kembali ke ke Negaranya untuk bekerja, dan aku harus membenahi hatiku yang mulai rapi. Email dan FB seolah menjadi hal yang paling penting dibandingkan bekerja dan mencari uang. Sampai akhirnya ia memilih untuk menetap di Bali dalam jangka waktu yang cukup lama 6 bulan. Aku merasa bahagia karena aku merasa memiliki sesuatu yang akan aku jaga dan aku kasihi. Aku memiliki berjuta perasaan untuk menyayangi yang aku tidak tau akan aku berikan kepada siapa. Dan aku rasa aku memilihnya.
Kami bertemu kembali Oktober 2012, seolah seperti sebuah kebahagiaan yang sangat menakjubkan. Dia menjemputku dan kami melalui masa-masa indah bersama, seperti saudara , aku tidak membutuhkan apapun karena aku merasa complete. Dia pun terlihat begitu senang. Aku menatap kerlingan bahagia dari matanya yang hijau. Tatapan mata yang selalu ingin aku lihat. Tapi, aku harus memilih “meninggalkannya” dibali karena aku harus kembali bekerja, mengumpulkan uang untuk bisa bersama di Jerman suatu saat. Itu seperti sebuah cita2 dan kami akan menikmati hari bersama, berbagi cerita tentang hidup, minum bir, menikmati oktober fest atau mulai merayu pria2 jerman..upss!!!

Aku mulai merasa sendiri setelah pertemuan kami dibulan oktober. Dia seperti hilang , tidak ada pesan dan mulai tidak membalas pesanku. Aku sedikit senang ketika akhirnya dia sent me an email untuk mengucapkan ulang tahun. Aku merasa harus menemaninya di hari ulang tahunnya, di bulan Februari. Aku mengatakan padanya bahwa aku akan ke sana di Bulan Februari untuk bersama lagi. Dia tiba2 menjadi orang yang sangat dingin. Membuat aku ingin segera ke sana untuk mengetahui keadaannya. Aku mengabarinya bahwa aku akan kesana sabtu 12 Febru. 180 derajat berbeda dari pertemuan kami sebelumnya, dia tidak menjemputku dan sepertinya bukan manjadi temanku lagi. Aku tetap harus positive thinking, mungkin dia sedikit sibuk, dan aku masih bisa ke ubud sendirian. Hari minggu yang cerah pun berubah menjadi hujan kesedihan, karena aku menyadari bahwa aku sendirian di balkon tanpa siapapun. Dan aku pun mengurungkan niatku untuk menelponnya. Sms yang aku terima, ia mengajakku untuk makan malam. Kami bertemu tidak lebih dari 2 jam. Dan selama pertemuan itu, ia dan roomatenya membicarakan yoga, lalu hari2 mareka. Aku menjadi merasa aku bukan temannya dan hanya seorang turis yang bertemu disalah satu sisi jalan di Ubud.  Pertemuan itupun berakhir dengan perasaan bingung, marah, sedih dan kecewa yang membuatku tidak bisa memejamkan mata. Iya, sepanjang malam aku hanya duduk di bar sendiri dan membiarkan diriku mabuk dan mencaci pilihan dalam kehidupanku.

Keesokan harinya, serasa Ubud berubah menjadi neraka kehidupanku. Hari ulang tahunnya yang telah aku rencanakan sebagai bentuk dan lambang dari persahabatan kami seolah menjadi sekedar rest area baginya. Kami bertemu di pasar setempat dan aku mengucapkan selamat ulang tahun dipinggir jalan, karena dia berkata bahwa dia akan pergi ke denpasar bersama temannya untuk melihat temannya yang lain. Aku hanya bisa menatap mata itu dan berkata dalam hati ku “iya aku telah kehilangan sabahat”..Aku memeluknya dan ternyata itu menjadi pelukan terakhir. Dan entah kapan aku bisa menatap  kerlingan mata hijau itu sambil menikmati kopi susu. Seolah belum puas dengan itu, ia berkata bahwa ia akan kembali ke Jerman awal maret dan tidak akan kembali lagi ke Indonesia. Aku tersenyum, seolah pertanda bahwa aku mulai menertawakan kekalahan dalam kehidupanku. Aku menatapnya berlalu begitu saja dan menjadi kaku terdiam. Inilah akhir dari sebuah persahabatan. Walau aku begitu sulit untuk bisa melepaskannya dan mengatakan pada diriku bahwa aku ditakdirkan untuk sendiri.

Aku kembali ke penginapan dan hanya terdiam. Semua berakhir dan hancur..
BUKAN KEPERGIANNYA YANG MEMBUAT KU SAKIT, TAPI KEHILANGANNYA YANG  AKU TANGISI……….