Ditinggalkan itu sakit,
melepaskan itu sulit dan meninggalkan itu sebuah pilihan.
Hidup bagiku tidak
pernah memberikan pilihan yang mudah untuk di mengerti.
Manusia yang datang seperti sebuah kendaraan
yang lalu lalang di jalanan.
Dan aku hanya seorang pejalan kaki yang singgah
untuk menikmati secangkir kopi.
Tegur sapa sesaat sebelum mereka semua pergi
dan berlalu.
Dan aku bangkit dari kursi, kembali melanjutkan perjalanan
lalu mencari kedai kopi lainnya untuk menatap kembali kejalan dan mulai melihat
pejalan kaki lainnya.
Sesaat aku teringat kembali
akan pilihan ku untuk menerima orang asing untuk masuk ke dalam duniaku yang
sudah hancur sebelumnya. Ia datang seperti seorang room design yang berhasil
menata kehidupanku. Hanya dalam waktu 1 minggu saja setelah kami bertemu di
tempat persembunyianku disalah satu sisi danau Toba. Aku berhasil menatap bahwa
kehidupanku akan seperti apa. Semua imajinasi profesionalku perlahan
bermunculan. Iya, aku akan menjalani bersama dengan sahabat hatiku ini. Lalu satu kata yang menyakitkan muncul “ditinggalkan”,
sang arsitek harus kembali ke ke Negaranya untuk bekerja, dan aku harus
membenahi hatiku yang mulai rapi. Email dan FB seolah menjadi hal yang paling
penting dibandingkan bekerja dan mencari uang. Sampai akhirnya ia memilih untuk
menetap di Bali dalam jangka waktu yang cukup lama 6 bulan. Aku merasa bahagia
karena aku merasa memiliki sesuatu yang akan aku jaga dan aku kasihi. Aku
memiliki berjuta perasaan untuk menyayangi yang aku tidak tau akan aku berikan
kepada siapa. Dan aku rasa aku memilihnya.
Kami bertemu kembali Oktober
2012, seolah seperti sebuah kebahagiaan yang sangat menakjubkan. Dia
menjemputku dan kami melalui masa-masa indah bersama, seperti saudara , aku
tidak membutuhkan apapun karena aku merasa complete. Dia pun terlihat begitu
senang. Aku menatap kerlingan bahagia dari matanya yang hijau. Tatapan mata
yang selalu ingin aku lihat. Tapi, aku harus memilih “meninggalkannya” dibali karena aku harus kembali bekerja,
mengumpulkan uang untuk bisa bersama di Jerman suatu saat. Itu seperti sebuah
cita2 dan kami akan menikmati hari bersama, berbagi cerita tentang hidup, minum
bir, menikmati oktober fest atau mulai merayu pria2 jerman..upss!!!
Aku mulai merasa sendiri
setelah pertemuan kami dibulan oktober. Dia seperti hilang , tidak ada pesan
dan mulai tidak membalas pesanku. Aku sedikit senang ketika akhirnya dia sent
me an email untuk mengucapkan ulang tahun. Aku merasa harus menemaninya di hari
ulang tahunnya, di bulan Februari. Aku mengatakan padanya bahwa aku akan ke
sana di Bulan Februari untuk bersama lagi. Dia tiba2 menjadi orang yang sangat
dingin. Membuat aku ingin segera ke sana untuk mengetahui keadaannya. Aku
mengabarinya bahwa aku akan kesana sabtu 12 Febru. 180 derajat berbeda dari
pertemuan kami sebelumnya, dia tidak menjemputku dan sepertinya bukan manjadi
temanku lagi. Aku tetap harus positive thinking, mungkin dia sedikit sibuk, dan
aku masih bisa ke ubud sendirian. Hari minggu yang cerah pun berubah menjadi
hujan kesedihan, karena aku menyadari bahwa aku sendirian di balkon tanpa
siapapun. Dan aku pun mengurungkan niatku untuk menelponnya. Sms yang aku
terima, ia mengajakku untuk makan malam. Kami bertemu tidak lebih dari 2 jam.
Dan selama pertemuan itu, ia dan roomatenya membicarakan yoga, lalu hari2
mareka. Aku menjadi merasa aku bukan temannya dan hanya seorang turis yang
bertemu disalah satu sisi jalan di Ubud.
Pertemuan itupun berakhir dengan perasaan bingung, marah, sedih dan
kecewa yang membuatku tidak bisa memejamkan mata. Iya, sepanjang malam aku
hanya duduk di bar sendiri dan membiarkan diriku mabuk dan mencaci pilihan
dalam kehidupanku.
Keesokan harinya, serasa
Ubud berubah menjadi neraka kehidupanku. Hari ulang tahunnya yang telah aku rencanakan
sebagai bentuk dan lambang dari persahabatan kami seolah menjadi sekedar rest
area baginya. Kami bertemu di pasar setempat dan aku mengucapkan selamat ulang
tahun dipinggir jalan, karena dia berkata bahwa dia akan pergi ke denpasar
bersama temannya untuk melihat temannya yang lain. Aku hanya bisa menatap mata
itu dan berkata dalam hati ku “iya aku telah kehilangan sabahat”..Aku
memeluknya dan ternyata itu menjadi pelukan terakhir. Dan entah kapan aku bisa
menatap kerlingan mata hijau itu sambil
menikmati kopi susu. Seolah belum puas dengan itu, ia berkata bahwa ia akan
kembali ke Jerman awal maret dan tidak akan kembali lagi ke Indonesia. Aku
tersenyum, seolah pertanda bahwa aku mulai menertawakan kekalahan dalam
kehidupanku. Aku menatapnya berlalu begitu saja dan menjadi kaku terdiam. Inilah
akhir dari sebuah persahabatan. Walau aku begitu sulit untuk bisa melepaskannya
dan mengatakan pada diriku bahwa aku ditakdirkan untuk sendiri.
Aku kembali ke penginapan
dan hanya terdiam. Semua berakhir dan hancur..
BUKAN KEPERGIANNYA YANG
MEMBUAT KU SAKIT, TAPI KEHILANGANNYA YANG AKU TANGISI……….