Sabtu, 03 Januari 2015

Kaleidoskop 2014

Ritual kaleidoskop tahun ini ditulis dalam situasi yang tenang dan santai. Tidak seperti 2 tahun belakangan, saya sedikit sulit memiliki waktu dan bisa berfikir tentang speak terjang dalam tahun yang sudah berlalu, apalagi untuk mengingat kembali satu – persatu kejadian yang mengawali tahun 2014.
Sedikit kilas balik dari tahun 2013, saya berencana ingin membeli sebuah rumah pribadi untuk diri saya sendiri. Memasuki pertengahan tahun sepertinya harapan itu mulai sedikit pupus dikarenakan penulis kaleidoskop ini belum bisa move on dan menyelesaikan masalah dengan hatinya sendiri. Seperti biasa saya tidak terlalu suka dengan mukadimah yang bertele-tele. Sebaiknya mulai mencatat..
Januari 2014
Pesta perayaan akhir tahun 2013 dihabiskan dikota kelahiranku Padang-Sumatera Barat, bukan rencana yang mendadak karena memang tidak ada perencanaan untuk kembali ke kot kelahiran akhir tahun lalu. Seperti tidak cukup dengan cobaan tahun ganjil, mulai dari ditinggal orang terkasih di bulan Juli 2014, kucing kesayangan meninggal, akhir tahun ditiutup dengan kabar Ibuku yang terkena stroke ringan. Sebagai anak yang berbakti, aku meninggalkan semua pekerjaan ku dan mengunjungi kota Padang demi Ibuku. Ini adalah tragedy yang mencolok di pergantian tahun 2013 dan 2014.
photo
My little kingdom in Padang - West Sumatera
Februari 2014
Setelah lebih 3 bulan bergabung dikelas bahasa Prancis, memaksakan diri untuk keluar dari dunia suntuk sebagai salah satu usaha move on kata orang, aku belum juga menemukan kenyamanan hati. Semua keterlibatanku dalam kehidupan social hanya membawaku semakin mendekati semua hal yang berbau Eiffel dan Prancis. Melihat ketidakadilan ini, aku memutuskan untuk keluar dari kehidupan social. Off dari semua media social seperti, facebook, twitter dan kawan-kawannya. Aku lebih senang menghabiskan waktu dengan mendengarkan music dan berdiam diri seperti batu. Ini adalah hal mencolok yang terjadi di bulan februari.
Maret 2014
Lama tak terdengar suara manusia prancis idamanku, bulan ini mendapatkan pesan email pertama setelah terdiam beberapa bulan. Sedikit membuat dunia sunyiku kembali bergeming walau satu nada saja. Masih tenang setelah meninggalkan kelas Prancis dan berusaha untuk mulai menulis novel pertama dalam kegiatan lain dari kehidupanku. Walau belum merasa seutuhnya bisa menjadi manusia dengan kebiasaan menulis, aku menikmati perlahan proses pencurahan isi kepala kedalam lembaran-lembaran Microsoft word. Berbicara masalah keuangan, di bulan ini cukup membahagiakan, aku juga memutuskan untuk mengakhiri pengejawantahan melihat negeri orang lain. Aku menemukan satu sisi aneh dari setiap perjalanan yang sudah pernah aku lakukan sebelumnya. Dibulan April aku akan membahas masalah ini.
April 2014
Menjelang pertangahan tahun selalu saja ada ajakan-ajakan untuk menghabiskan uang alias jalan-jalan. Mari membahas mengenai “travelling”. Apakah sebenernya tujuan dari travelling?? Apakah untuk sekedar jalan-jalan, berfoto dan pamer di facebook? Saat ini begitu banyak buku bertebaran membahas tentang travelling bahkan sepertinya sedang menjadi sebuah trend. Namun, sangat disayangkan kebanyakan dari buku tersebut mengungkap cara jalan-jalan degan low budget, trik jalan-jalan di Negara dengan tingkat cost living yang tinggi (Eropa & Amerika), info mengenai tempat-tempat yang harus dikunjungi. Track recordku dalam melakukan jalan-jalan aias travelling mungkin bukanlah yang menakjubkan. Aku hanya pernah berkunjung ke beberapa Negara diwilayah Asia Tenggara. Anehnya dari setiap perjalanan yang aku lakukan, berfoto bukanlah suatu hal yang membuatku senang, shopping tidak membuatku bahagia. Disetiap akhir dari sebuah perjalanan aku selalu merasa sedih bahkan tak jarang menjadi sedikit stress, terutama apabila aku sudah menyukai tempat tersebut dan ingin tinggal dan menetap disana. Apalah daya, aku harus kembali ke negaraku untuk berjuta alasan demi kelangsungan hidupku dan keluargaku.
Perasaan sedih karena harus berpisah dengan orang-orang yang sudah membuatku nyaman dan harus bisa menerima keadaan kembali kepada rutinitasku. Apakah aku menyukai perubahan??? Iya aku menyukai perubahan, tapi perubahan yang seperti apa? Itu adalah jawaban yang harus aku persiapkan sebelum aku menemui dan menjalani proses perubahan itu sendiri. Aku menyadari bahwa ternyata perasaan itu lah yang membuatku masih terus tidak bisa melupakan seorang Prancis yang pergi ke Negara lain karena ingin melanjutkan kehidupan dengan alasa “adventure, travelling”… Meninggalkan orang-orang yang sudah memberikan hati dan pikirannya untuk bisa mempertahankan suatu hubungan, akhirnya berakhir hanya karena kata “travel”!!!.. Apakah aku hanyalah persinggahan bagi orang lain, seperti sebuah kedai kopi yang begitu indah, setelah menikmati kopinya sang traveller berlalu dan kedai kopi menunggu traveller lainnya tanpa tau yang mana pelanggan setianya. Hmmmh
Sungguhlah aku tidak ingin menjadikan orang lain sebagai persinggahan sesaat dalam hidupku. Aku sudah berfikir untuk membunuh jiwa seorang pejalan jauh dalam diriku. Keinginan terbesarku yang ingin memeluk seorang Prancis tepat didepan menara kebanggaan bangsa mereka mulai aku bunuh walau belum aku kubur karena kode booking flight menuju Paris masih tetap aku kantongi setiap hari. Apakah aku seorang pengecut??? Jawabannya tidak tetapi aku orang dengan berjuta pemikiran dan penuh dengan suara-suara yang selalu mengeliliku, maka jangan aneh ketika menemukan aku sendirian dan terlihat begitu serius bermain dengan pikiranku sendiri.
IMG_3223
Mei 2014
Cukup dengan hidup tenang aku memutuskan kembali menjelajahi bahasa Inggris. Bahasa penjajah yang akhirnya menjadi bahasa International tanpa persetujuan dari negaraku, hmmmh tapi itulah dunia. Jadi jangan pernah berkata dunia itu adil. Keadilan sejati itu hanya ada diakhirat. Itu kepercayaanku sebagai muslim, kalau kalian berfikiran lain itu urusan kalian dengan agama kalian.
Mei 2014, aku sudah bercokol manis dalam sebuah ruangan preparation TOEFL. Tidak terduga, salah satu student dalam kelas tersebut adalah collegue ku di kantor. Kami tidak terlalu dekat awalnya, namun akhirnya menjadi teman sampai saat ini.
Karena satu dan lain hal beberapa teman ekspatriat di medan, masih tetap menghubungiku, walau aku sudah seperti ular yang sangat kenyang, diam dalam dunianya. Setiap perjumpaan, aku selalu menatap mata mereka satu persatu, melihat jauh kedalam diri mereka, apakah benar mereka menginginkan aku untuk menjadi teman, ataukah hanya ingin memenuhi kebutuhan mereka karena sedang berada dinegara yang jauh dari peradaban mereka berada. Aku menjadi lelah dengan semua tipu daya. Aku merasakan sedikit angkuh di sana, aku bisa merasakan jiwa superior yang berusaha mereka simpan namun tetap kaluar dari tatapan mata itu. Ah, dan lagi lagi berujung pada rasa “ter-underestimate-kan”.. Aku berkata lirih dalam hatiku “teman, kau adalah temanku maka jadilah temanku”. Tatapan mataku terkadang berbalas dengan senyuman palsu dari bibir mereka. Tapi, aku masih tetap berkata dalam hatiku “kau adalah temanku”. Itulah aku dengan jiwa keluhuran yang aku percaya adalah secercah nur-rachmat. Tak jarang aku meninggalkan mereka dalam diam, kemudian sibuk sendiri dengan pekerjaan dan kursus TOEFL ku. Kebersamaan dengan teman-teman setanah air dalam kelas bahasa Inggris adalah sebuah hiburan lain dalam kehidupanku kala itu dan aku selalu menunggu kelas itu, walau hanya 2 kali seminggu. Nama mereka sepertinya sudah aku post dalam kisah “perjalanan Penang dan Langkawi”..
Juni 2014
Pertengahan tahun 2014, kantorku sedang sibuk-sibuknya membahas mengenai PRL. Belum lagi situasi yang sedikit memanas mengenai kebijakan dari para petinggi neeri ini yang ingin mengerdilkan dan mengganggu kedaulatan perusahaan tempat aku bernaung. Aku adalah singa lucu yang sedang tertidur, jadi biarkan saja aku di nina bobokkan. Aku dibangunkan dengan jutaan berita yang membuat rambut singaku berdiri dan mataku panas. Aku terbangun, ada atau tidak ada simpatisan yang ingin bergabung, aku berpartisipasi dalam sebuah gerakan demonstrasi akbar di jantung Indonesia – Jakarta.
Aku menyadari jiwa nasionalismeku yang redup saat aku beranjak dewasa, mucul dengan kekuatan besar. Apalagi setelah aku memahami tatapan mata dari beberapa warga asing yag aku temui. Hal ini bukan membuatku menjadi kebarat-baratan, tapi malah membuatku menjadi seorang pejuang di Negara yang sudah berdaulat. Aku mulai bergabung dengan organisasi yang membela kaum pekerja di perusahaanku , sibuk mendengar dan mencari informasi mengenai penjajahan di era baru yang kami sebut sebagai “neokolonialisme”.
Apakah saat ini anda sedang mengenakan pakaian bermerk “LEVIS” bukannya batik pekalongan.. atau sandal dengan merk “Kicker” dan bukannya “tigo sapilin”? istilah yang dinaikkan adalah “globalisasi”. Apakah Negara kita sudah siap? Tenang saja, aku tidak akan membahas ini lebih jauh, silahkan renungkan dan pahami beberapa pertanyaan dan penjelasan singkat. Kenapa Negara-negara yang kaya akan sumber daya-rata-rata disebut sebagai Negara berkembang? Kenapa Tenaga kerja Negeri ini dihargai rendah daripada tenaga asing? For example, dalam suatu international school, seorang native speaker Inggris (walau bukan berasal dari Inggris, bisa jadi dari Jerman atau Negara yang Inggris bukanlah bahasa pertama mereka) dibayar mahal, tapi belum tentu mereka memegang sertifikat untuk mengajar dan tidak ada izin bekerja. Sementara pekerja Indonesia dengan sertifikat TOEFL, bahkan sudah lulus master sastra inggris sekalipun, dibayar lebih sedikit diatas UMR, namun tetap saja hanya separuh dari gaji sang bule, mengapa??? Berapa banyak perusahaan asing yang menguasai sumber daya alam kita, dan apakah ada perusahaan Indonesia yang bercokol dinegara lain???? Di Jakarta anda mungkin pernah melihat SPBU dengan logo SHELL apakah anda pernah melihat SPBU Pertamina di Negara lain?? Berapa perbandingan film asing dan film asia di bioskop tercinta XXI??? Pertanyaan utama “Apakah anda benar-benar orang Indonesia???” Kalau iya, “apakah anda mengenali budaya anda?”
Intinya dibulan ini aku mulai membuka mata, beberapa isu politik tidak bisa aku bahas disini, mungkin seandainya kita bertemu, aku bisa sedikit bercerita tentang apa yang ada disekeliling kita saat ini. Jangan percaya media, karena tidak akan ada informasi yang benar-banar berimbang.
Juli 2014
Bulan ini adalah bulan ibadah. Penghujung bulan ini akan dihabiskan dikampung halamanku – Padang-Sumatera Barat. Menjalani ibadah dalam keadaan sakit memang hal pertama dari peradaban bulan puasa dalam hidupku. Penyakit lambung akut yang bersemayam dalam perutku seolah tak membiarkanku untuk menjalani puasa penuh. Tapi, aku tetap berusaha setiap hari untuk berpuasa, walau kadang harus berakhir dengan terkapar di tempat tidur disore hari. Di bulan ini juga gonjang-ganjing masalah kepindahanku ke pulau Batam mulai terkuak. Aku sudah mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi seandainya diawal Agustus aku akan dipindahkan ke Pulau idamanku itu.
Dibulan ini juga aku menambah pengalamanku dengan menerima seorang wanita berkebangsanaan Polandia dirumahku. Aku, Harry dan Monika. Kami penghuni rumah di Tomang Residence nomor 8K.
photo-2
Rumah penuh kenangan di Medan!!
Agustus 2014
Lebaran dikampung halaman, sambil melihat rumah yang aku beli bersama Ibuku disana. Rumah sederhana yang asri terletak dikawasan sekitar persawahan. Puas dengan menghabiskan libur Hari Raya, aku kembali ke beradaban kota Medan, kembali kepada ide-ide ku dan kembai kepada buku dan tulisan-tulisanku. Pekerjaan menjadi sedikit aneh, karena Surat Keputusan mengenai perpindahanku sudah bertebaran di email pribadiku. Baiklah, its time to move-bisikku dalam hati. Seperti kebiasaan dari setiap perusahaan, penundaan keputusan adalah hal yang biasa. Kepindahanku tertunda, dikarenakan beberapa hal yang sepertinya tidak harus aku ceritakan. Kelas bahasa Inggris yang memasuki akhir pembelajaran menyebabkan kami berencana menghabiskan akhir dari kelas itu dengan berlibur ke Negara tetangga Malaysia. Aku yang sudah kehilangan sense to travel, masih manut-manut tidak berkomentar. Walau akhirnya salah satu classmate ku mengakhiri semua kegalauan itu dengan membooking tiket secara bersamaan disebuah kedai kopi disebelah kantorku. Anak ini seperti sangat semangat sekali dengan perjalanan yang akan dilakukan. Sementara aku adalah orang yang menikmati liburan dengan duduk manis dengan kopi, rokok dan buku.
September 2014
Bulan ini menjadi akhir dari kelas bahasa Inggris dan kisah yang mencolok adalah perjalanan Penang dan Langkawi yang sudah aku post sebelumnya dalam blog ini : http://rininavarin.blogspot.com/2014/09/trip-penang-and-langkawi.html.
Silahkan di acak-acak sendiri.
Bulan ini sekaligus menjadi bulan yang tidak aku sukai karena dikelilingi dengan perbincangan politik yang kurang smart diantara pendukung calon presiden Indonesia. Tak jarang aku menemukan tim sukses pasangan calon presiden berada di warung kopi, tempat nongkrong dan fasilitas umum lainnya saling berdebat. Bahkan ada keluarga yang tidak saling tegur sapa dikarenakan perbedaan pendapat. Walaupun aku yakin masing-masing dari mereka tidak mengetahui keadaan real bangsa ini dan memilih percaya pada informasi media yang menyajikan berjuta pencitraan palsu. Baiklah, tidak usah di bahas.
Oktober 2014
Setelah lebih 2 bulan dalam ketidakjelasan, akhirnya sebuah memo sakti mengharuskan aku angkat kaki dari Medan dan memasuki pulau Batam. Seharusnya dari tahun lalu aku dipulau ini. Tetapi, karena rasa sayang terhadap partner hidup, aku memilih untuk tidak menghiraukan tawaran untuk pindah ke Batam April 2013 silam. Semua akan lucu pada waktunya, eh maksudku indah pada waktunya. Usai pesta demokrasi yag acakadut dalam pemandaganku. Akhirnya, aku bisa menikmati suasana baru di kota Batam. Bertemu dengan teman lama Nino, Mia, Agatha dan Clayton James, berkenalan dengan beberapa teman baru Egi, Nando, Rivo, bang mamek. Bertemu dengan collegue dan tim kerja baru. Sedikit hawa segar. Di bulan ini juga akhirnya aku memutuskan untuk membeli sebuah rumah baru untukku sendiri. Sebuah rumah dengan harga yang fantastis untuk ukuran orang sepertiku. Walau dengan berbagai cara aku ingin membangun kerajaanku sendiri.
Penghujung bulan ini, aku sudah bisa menikmati tinggal dirumah di jantung kota Batam. Kesendirian membawaku mengenal lebih jauh siapa diriku sendiri dan apa yang ada dari dalam diriku yang patut aku pertaruhkan. Diskusi dengan diriku membawaku kepada keputusan akhir :
  • Aku tidak akan melakukan travel/ jalan-jalan. Mungkin jalan-jalan akan terjadi apabila orang yang aku nantikan untuk hadir membawaku untuk melihat dunia ini dari sisi yang lain. Tapi, sungguh sense of travel ku sudah punah dan booking code Medan-Vietnam-Paris itu sudah hangus kubakar didepan mataku sendiri.
  • Aku menemukan duniaku sangat akrab dengan buku, pena, Microsoft word, kopi dan rokok. Ternyata menulis adalah bakat ajaib yang aku miliki. Aku tidak akan peduli dengan komentar orang lain terhadap tulisanku. Manusia berencana, Tuhan menentukan dan orang lain mengomentari. Itu sudah jadi tabiat manusia sepertinya dan aku lebih memilih keep writing and let the anjing berlalu.. hehe..
  • Aku juga menghentikan aktifitas fikiranku tentang bermain music, walau sebelumnya aku bermain drum, pernah ikut violin course dan tergabung dalam band asalbunyi.com, kali ini aku memilih memainkan beberapa lagu oldies dengan gitar, bernyanyi untuk diriku sendiri.
  • Aku tetap memilih badminton dan sedikit jogging untuk dijadikan olahraga.
  • Buku, buku dan buku.. Aku kembali pada buku-buku, apapun itu, akan aku baca. Sembari makan, merokok, BAB, sebelum tidur.
  • Aku menghentikan langganan TV berbayar, karena menurutku menghabiskan waktuku saja. Aku menggunakan local cable, hanya sekedar untuk menonton hiburan, dan itupun paling-paling 2 jam seminggu. Untuk film, aku memiliki Mia and the gank yang merupakan took Film berjalan.. hahahah, lagi-lagi Genk sirkus ini membuatku terhibur.
IMG00130-20120422-0857
November 2014
Menemukan diri itu teryata menyenangkan. Aku menerima siapa aku dengan segala kekuranganku di mata orang lain. Aku memiliki kolam kecil didepan rumah, tempat beberapa satwa perenang bernaung. Aku menyelamatkan mereka dari ulah manusia yang ingin menjadikannya ikan goreng atau ikan asam pedas, menurutku mereka terlalu cantik untuk dimakan.
Bulan ini juga dihiasi dengan kunjungan Ibu dan kakakku. Mereka ingin sedikir melihat kota ini dan menikmati suasana tenang yang ditawarkan Batam.
photo-3
New Place - to push my brain --> work for books and article
Desember 2014
Selesai sudah akhir tahun 2014. Dalam perenunganku beberapa malam, aku menyadari bahwa dimanapun aku berada, aku akan selalu teringat dengan partner Prancisku ini. Tidak ada satupun yang bisa membuat hatiku berubah. Aku sudah pindah kekota baru, bertemu dengan teman-teman baru, memiliki istana baru, membangun kehidupanku sendiri, namun tidak bisa aku pungkiri bahwa hati dan otakku berhasil dicuri oleh Manusia Prancis kelahiran Paris. Daripada sibuk mencari cara untuk keluar, aku membuat sebuah deklarasi. “AKU MEMANG MENCINTAIMU, LALU BIARKAN JIWAKU INI MENGENANG DAN AKAN SELALU MENUNGGU”. Dan itulah keputusanku mengakhiri tahun 2014.
Tidak itu saja, diakhir tahun aku diberikan kesempatan untuk bisa mengenal mannusia Eropa lainnya yang mencintai khasanah budaya Indonesia. Perempuan breadth Polandia bernama Anna, eittts tunggu dulu, ini bukan Ana dari Paris atau Anna Montrimmer yang ada dalam novelku. Anna is in relationship dengan salah satu pria Manado kelahiran Purwokerto bernama Aga. Mereka menyenangkan. Aku dan Genk Sirkus membawa mereka dalam dunia aneh kami. Kemping di tengah malam diareal angker kota Batam, berangkat menggunakan taxi ke wiayah kemping. Berkeliling kota Batam, memasak bersama, disetiap kesempatan selalu bermain domino, spertinya permainan ini adalah hantu yang sedang menggandrungi Genk Sirkus. Sepertinya mereka akan menyukai semua itu. Aku akan menunggu tanggapan mereka dari CS site, atau mungkin dari blog ini..
IMG_0839
dari kiri ke kanan - Mia, Anna, Rivo, Nando, Rini, Aga, Egi dan Bg Muhammad (pict)
Aku, Mia, Nando, Egi, Anna dan Aga, kami menghabiskan akhir tahun disalah satu resto yang berada dikawasan Villa Panbill. Mereka manari dan berdansa degan gembira, dan aku sendiri asyik mengirimkan salam rinduku kepada seseorang yang masih berada di Costa Rica, hai apa kau masih belum merasakan bahwa aku serius menyukaimu. Dasar Kingkong…
OKAYYYYYYY…. Selamat tinggal 2014…. Tahun 2015 aku sudah punya beberapa rencana – aku lebih senang menyebutkan rencana datar alias Flat Planning.
  1. Aku akan serius dengan tulisan-tulisanku. Ada atau tidak ada penerbit, aku akan terus menulis sampai aku mati, dengarkan itu sampai aku mati!!! 1 Buku lagi di tahun ini harusnya selesai
  2. TOEFL is a must, aku kembali membuka buku2 TOEFL ku, Agatha Fayme and Mia, please help me to prepare my war in exam
  3. Aku akan menerapkan action plan untuk pekerjaanku dan tidak akan membiarkan diriku larut dalam permainan kantor. Aku punya jalanku sendiri dalam bekerja dan tentu saja aku memperhatikan rules yang ada.
  4. .HEMAT.. Cicilan rumahku yang gila-gilaan membuatku harus ikat pinggang dan lebih giat mencari uang dari pekerjaan marketing freelence
  5. Belajar Bahasa Arab!! Ini karena aku ingin memahami bahasa yang sering digunakan dalam agamaku
  6. Hey orang Prancis favoriteku, tenang saja, aku masih akan terus disini sampai rambutku memutih dan wajahku sudah tidak muda lagi.
Itu saja!!!!
Selamat tahun baru ya Rini Navarin, aku menerimamu dengan semua kekurangan dan pemikiran cemerlang yang ada dalam kepalamu. Kita akan terus bersama, kau tenang saja!!
 IMG00248-20120617-0637