I
think I should write this little stories.. Tangkahan, lets talk about it Rin…
Medan
selalu punya kisah, Sumatera Utara selalu memberikan kenangan. Kenangan sedih
atau indah, menyenangkan atau menyedihkan atau bahkan biasa saja, yang penting
Medan it is not the worst city in the World.
Sumatera
Utara dengan ibukota Medan. Medan, anda boleh bilang macet, berisik, orang
berbicara dengan lantang dan keras. Saya juga merasa demikian. Namun, dari
sekian ratus manusia yang pernah saya jumpai didunia ini, saya lebih suka orang
yang seperti ini. Tidak memasang wajah nge-Dewa, tetapi memliki hati seperti
doraemon. Istilah “siap bela kawan” asalnya dari Medan, at some point istilah
ini terlihat dari anak medan.
Aku
pindah ke kota ini tahun 2011 tepatnya di Bulan April. Apa yang dirasakan oleh
kebanyakan pendatang juga aku rasakan saat menginjakkan kakiku di
Medan-markasnya orang Batak.
Dibalik
padatnya kota Medan, aku bisa menemukan ketenangan ketika memasuki kawasan kuil
Cemara Asri. Aku menikmati suasana tenang dan indahnya burung bangau yang
berterbangan sesuka hati di kawasan kuil. Aku mulai menelusuri kawasan tenang
nan indah diseputar medan, dan pencarianku pun membuahkan hasil. Aku menemukan
beberapa tempat menyenangkan yang bisa ditempuh dalam beberapa jam saja,
diantaranya :
- Danau
Toba
-
Bukit Lawang
-
Tangkahan
Aku
tidak perlu membahas Danau Toba, karena sepertinya sudah terlalu sering aku
ceritakan, termasuk dalam novelku sendiri.
Kali
ini aku akan bercerita kisahku tentang tangkahan.
Aku
sudah pernah mendengar kata Tangkahan dari beberapa teman penggila jalan-jalan.
Namun, tetap saja meluangkan waktu untuk pergi ke tempat ini membuatku berfikir
dua kali. Pertama, aku tidak tau apakah aku akan menyukai tinggal sendirian
didalam hutan. Kedua, aku sudah terkena rayuan danau toba yang memang aduhai..
Semenjak
kepindahanku ke Medan yang dimulai tahun 2011, mungkin sudah lebih dari 15 kali
kunjungan ke danau Toba. Hampir dua tahun berselang pun aku belum mau
memutuskan untuk pergi ke tangkahan.
27 april 2013
Sebuah
undangan simple meluncur di email facebook ku. Entah hanya basa basi, dari
teman serumah ku kala itu yang berkewarganegaraan Prancis atau memang sungguh
ingin aku hadir ditengah – tengah kaum
borju- katanya. Sebenarnya aku bukanlah tergolong orang yang bisa dengan
gampang berkumpul bersama orang lain, aku sangat suka menyendiri. Tetapi, aku
tidak ingin perasaan “inlander” ini akan membuatku tambah rendah di mata mereka
dengan tidak memberikan kontribusi untuk undangan ini. Spontanitas tanpa pikir
panjang terkadang menjadi tindakan yang terkadang aku sesali. “Yes, Im in”.. itu adalah keputusanku saat
itu.
Kami
berangkat, dengan kesepakatan pergi sekitar jam 5 sore.
Hari
Jum’at adalah hari yang membosankan bagiku karena laporan akhir pekan selalu
wara wiri diemailku pada hari Jum’at dan anggap saja ini sebagai hiburan akhir
pekanku bersama teman serumah yang sangat aku sayangi.
Perjalanan
menuju Tangkahan bisa di tempuh sekitar 4-5 jam tergantung driver dan situasi
jalanan. Apakah macet atau normal. Aku sudah hafal dengan kebiasaan on time
kaum western. Tepat waktu pun merupakan salah satu motto hidupku, sehingga
untuk permasalahan waktu aku bisa atasi dengan baik.
Setelah
hampir 5 jam berkendara, dikarenakan tersesat, waktu tempuh yang seharusnya
hanya sekitar 4 jam menjadi 5 jam. Kami
akhirnya menemukan gerbang tangkahan tersebut sekitar pukul 10 malam. Turun
dari mobil,seorang pria berperawakan batak-karo sudah menanti dengan manis
dengan membawa alat penerangan kecil di tangannya. Kami pun mengikuti sang pria yang belakangan diketahui
adalah teman baik dari salah satu wanita berkebangsaan Prancis yang ikut dalam
rombongan kami. Aku mulai nervous saat pertama kali menginjakkan kaki
dijembatan gantung. Untuk mencapai penginapan, kami harus melewati sebuah
jembatan gantung. Aku tidak pernah menyukai ketinggian dan air. Jembatan
gantung tersebut sepertinya berada sekitar 20 meter dari permukaan sungai di
bawahnya. Gemetaran dan membutuhkan
waktu yang cukup lama, aku menyadari beberapa teman seperjalananku ini mulai
menertawaiku dari belakang, tapi menurutku itu benar – benar tidak lucu.
Setelah
melewati cobaan jembatan gantung, kami sampai disebuah restaurant kayu. Walau
dalam suasana remang-remang karena
pencahayaan yang seadanya, perutku tetap saja ingin menikmati semangkuk mie
rebus. Malam itu ditutup dengan peristirahatan yang indah, disebuah rumah
berlantai 2 yang selalu akan aku kenang. Aku masih ingat dengan raut wajah
seseorang yang tertidur pulas disebelahku, wajah yang akan menghantuiku hingga
saat ini. Raut wajah yang tidak pernah akan hilang dalam ingatanku yang
terputus-putus.
28 April 2013
Keesokan
paginya aku terbangun dengan perasaaan tenang, segera melompat keluar dan
menghirup udara segar hutan yang melemparkan jutaan senyuman kepada hatiku.
angin pun seperti tidak ingin ketinggalan menyapa ku dengan semilir lembutnya
menerpa rambut ikalku yang masih acak-acakan.
sungai indah - view from the resto
Aku
mendengar satu per satu penghuni rumah itu yang notabene adalah satu group
denganku sudah bangun. Mereka berencana akan pergi memandikan gajah. Aku tidak
pernah tertarik untuk melihat hewan diperintah bahkan mungkin akan di pukul untuk
mematuhi perintah sang pawang. Aku lebih suka membiarkan hewan-hewan itu hidup
liar didalam hutan, karena itulah tempat mereka sesungguhnya. Sehingga ajakan
untuk melihat gajah atau hewan liar lainnya tidak pernah membuatku bahagia.
Aku
memilih menghabiskan aktifitas pagiku dengan santai di restaurant sambil
menikmati udara segar hutan, indahnya sungai yang mengalir dengan tenang,
secangkir kopi susu dan rokok. Nothing can bite my coffee session!!!!...
Keheningan surgawi ini hanya bisa dinikmati sekitar 2 jam saja. Selepas pasukan
pemandi gajah ini selesai, mereka sudah berencana untuk “tubing”. Again!!!!..
olahraga tidak pernah menarik perhatianku, apalagi setelah tragedy perahu
karetku sengaja dijatuhkan ke sungai, dan membuatku hanyut terbawa arus.
Sungguh membuatku tidak pernah ingin melakukan apapun yang berhubungan dengan
olahraga air. Aku tidak pernah mengerti bagaimana cara mengambangkan diriku
sendiri didalam air. Itu bukanlah keahlian yang ditakdirkan Tuhan untukku. Aku
sudah berencana untuk tidak mengikuti kegiatan “tubing” ke tengah hutan
tersebut. Semua mata tertuju padaku dan sepertinya sang guide tetap ingin aku
ikut serta untuk melihat naunsa hutan yang ditawarkan oleh tangkahan. Aku masih
enggan, tetapi ajakan dari teman serumahku membuatku luluh juga.
rumah tempat kami menginap
“Tubing”
plus dengan menikmati hutan dan ditutup dengan makan siang bersama menghabiskan
waktu kira – kira 4 jam-an. Selepas aktifitas hutan tersebut, kami semua
kembali ke guesthouse, mandi dan beristirahat. Sedangkan malam harinya ditutup
dengan nyanyi sambil menikmati bir dingin.
Air terjun di tengah hutan tangkahan
29 April 2013
Hari
terakhir ini ditutup dengan sarapan bersama dan bersiap kembali ke kota Medan,
untuk kembali berjibaku dengan pekerjaan dan pergulatan hidup bersama manusia
Prancis..
Terlalu telat untuk menulis cerita ini, terlalu cepat memutuskan untuk melupakan semua cerita tentang aku dan manusia Prancis itu... Dan ternyata bukan hanya Danau Toba, Tangkahan pun punya cerita tentang kita,,...
