Sabtu, 11 April 2015

Tangkahan juga punya cerita tentang Aku dan Manusia Prancis itu..

I think I should write this little stories.. Tangkahan, lets talk about it Rin…
Medan selalu punya kisah, Sumatera Utara selalu memberikan kenangan. Kenangan sedih atau indah, menyenangkan atau menyedihkan atau bahkan biasa saja, yang penting Medan it is not the worst city in the World.

Sumatera Utara dengan ibukota Medan. Medan, anda boleh bilang macet, berisik, orang berbicara dengan lantang dan keras. Saya juga merasa demikian. Namun, dari sekian ratus manusia yang pernah saya jumpai didunia ini, saya lebih suka orang yang seperti ini. Tidak memasang wajah nge-Dewa, tetapi memliki hati seperti doraemon. Istilah “siap bela kawan” asalnya dari Medan, at some point istilah ini terlihat dari anak medan.

Aku pindah ke kota ini tahun 2011 tepatnya di Bulan April. Apa yang dirasakan oleh kebanyakan pendatang juga aku rasakan saat menginjakkan kakiku di Medan-markasnya orang Batak.
Dibalik padatnya kota Medan, aku bisa menemukan ketenangan ketika memasuki kawasan kuil Cemara Asri. Aku menikmati suasana tenang dan indahnya burung bangau yang berterbangan sesuka hati di kawasan kuil. Aku mulai menelusuri kawasan tenang nan indah diseputar medan, dan pencarianku pun membuahkan hasil. Aku menemukan beberapa tempat menyenangkan yang bisa ditempuh dalam beberapa jam saja, diantaranya :
- Danau Toba
- Bukit Lawang
- Tangkahan

Aku tidak perlu membahas Danau Toba, karena sepertinya sudah terlalu sering aku ceritakan, termasuk dalam novelku sendiri.

Kali ini aku akan bercerita kisahku tentang tangkahan.
Aku sudah pernah mendengar kata Tangkahan dari beberapa teman penggila jalan-jalan. Namun, tetap saja meluangkan waktu untuk pergi ke tempat ini membuatku berfikir dua kali. Pertama, aku tidak tau apakah aku akan menyukai tinggal sendirian didalam hutan. Kedua, aku sudah terkena rayuan danau toba yang memang aduhai..

Semenjak kepindahanku ke Medan yang dimulai tahun 2011, mungkin sudah lebih dari 15 kali kunjungan ke danau Toba. Hampir dua tahun berselang pun aku belum mau memutuskan untuk pergi ke tangkahan.

27 april 2013
Sebuah undangan simple meluncur di email facebook ku. Entah hanya basa basi, dari teman serumah ku kala itu yang berkewarganegaraan Prancis atau memang sungguh ingin aku hadir ditengah – tengah  kaum borju- katanya. Sebenarnya aku bukanlah tergolong orang yang bisa dengan gampang berkumpul bersama orang lain, aku sangat suka menyendiri. Tetapi, aku tidak ingin perasaan “inlander” ini akan membuatku tambah rendah di mata mereka dengan tidak memberikan kontribusi untuk undangan ini. Spontanitas tanpa pikir panjang terkadang menjadi tindakan yang terkadang aku sesali.  “Yes, Im in”.. itu adalah keputusanku saat itu.

Kami berangkat, dengan kesepakatan pergi sekitar jam 5 sore.
Hari Jum’at adalah hari yang membosankan bagiku karena laporan akhir pekan selalu wara wiri diemailku pada hari Jum’at dan anggap saja ini sebagai hiburan akhir pekanku bersama teman serumah yang sangat aku sayangi.
Perjalanan menuju Tangkahan bisa di tempuh sekitar 4-5 jam tergantung driver dan situasi jalanan. Apakah macet atau normal. Aku sudah hafal dengan kebiasaan on time kaum western. Tepat waktu pun merupakan salah satu motto hidupku, sehingga untuk permasalahan waktu aku bisa atasi dengan baik.

Setelah hampir 5 jam berkendara, dikarenakan tersesat, waktu tempuh yang seharusnya hanya sekitar 4 jam menjadi 5 jam.  Kami akhirnya menemukan gerbang tangkahan tersebut sekitar pukul 10 malam. Turun dari mobil,seorang pria berperawakan batak-karo sudah menanti dengan manis dengan membawa alat penerangan kecil di tangannya.  Kami pun mengikuti sang pria yang belakangan diketahui adalah teman baik dari salah satu wanita berkebangsaan Prancis yang ikut dalam rombongan kami. Aku mulai nervous saat pertama kali menginjakkan kaki dijembatan gantung. Untuk mencapai penginapan, kami harus melewati sebuah jembatan gantung. Aku tidak pernah menyukai ketinggian dan air. Jembatan gantung tersebut sepertinya berada sekitar 20 meter dari permukaan sungai di bawahnya.  Gemetaran dan membutuhkan waktu yang cukup lama, aku menyadari beberapa teman seperjalananku ini mulai menertawaiku dari belakang, tapi menurutku itu benar – benar tidak lucu.

Setelah melewati cobaan jembatan gantung, kami sampai disebuah restaurant kayu. Walau dalam suasana  remang-remang karena pencahayaan yang seadanya, perutku tetap saja ingin menikmati semangkuk mie rebus. Malam itu ditutup dengan peristirahatan yang indah, disebuah rumah berlantai 2 yang selalu akan aku kenang. Aku masih ingat dengan raut wajah seseorang yang tertidur pulas disebelahku, wajah yang akan menghantuiku hingga saat ini. Raut wajah yang tidak pernah akan hilang dalam ingatanku yang terputus-putus.

28 April 2013
Keesokan paginya aku terbangun dengan perasaaan tenang, segera melompat keluar dan menghirup udara segar hutan yang melemparkan jutaan senyuman kepada hatiku. angin pun seperti tidak ingin ketinggalan menyapa ku dengan semilir lembutnya menerpa rambut ikalku yang masih acak-acakan.


                                                    sungai indah - view from the resto

Aku mendengar satu per satu penghuni rumah itu yang notabene adalah satu group denganku sudah bangun. Mereka berencana akan pergi memandikan gajah. Aku tidak pernah tertarik untuk melihat hewan diperintah bahkan mungkin akan di pukul untuk mematuhi perintah sang pawang. Aku lebih suka membiarkan hewan-hewan itu hidup liar didalam hutan, karena itulah tempat mereka sesungguhnya. Sehingga ajakan untuk melihat gajah atau hewan liar lainnya tidak pernah membuatku bahagia.

Aku memilih menghabiskan aktifitas pagiku dengan santai di restaurant sambil menikmati udara segar hutan, indahnya sungai yang mengalir dengan tenang, secangkir kopi susu dan rokok. Nothing can bite my coffee session!!!!... Keheningan surgawi ini hanya bisa dinikmati sekitar 2 jam saja. Selepas pasukan pemandi gajah ini selesai, mereka sudah berencana untuk “tubing”. Again!!!!.. olahraga tidak pernah menarik perhatianku, apalagi setelah tragedy perahu karetku sengaja dijatuhkan ke sungai, dan membuatku hanyut terbawa arus. Sungguh membuatku tidak pernah ingin melakukan apapun yang berhubungan dengan olahraga air. Aku tidak pernah mengerti bagaimana cara mengambangkan diriku sendiri didalam air. Itu bukanlah keahlian yang ditakdirkan Tuhan untukku. Aku sudah berencana untuk tidak mengikuti kegiatan “tubing” ke tengah hutan tersebut. Semua mata tertuju padaku dan sepertinya sang guide tetap ingin aku ikut serta untuk melihat naunsa hutan yang ditawarkan oleh tangkahan. Aku masih enggan, tetapi ajakan dari teman serumahku membuatku luluh juga.

                                                       rumah tempat kami menginap  

“Tubing” plus dengan menikmati hutan dan ditutup dengan makan siang bersama menghabiskan waktu kira – kira 4 jam-an. Selepas aktifitas hutan tersebut, kami semua kembali ke guesthouse, mandi dan beristirahat. Sedangkan malam harinya ditutup dengan nyanyi sambil menikmati bir dingin.

                                                 Air terjun di tengah hutan tangkahan

29 April 2013
Hari terakhir ini ditutup dengan sarapan bersama dan bersiap kembali ke kota Medan, untuk kembali berjibaku dengan pekerjaan dan pergulatan hidup bersama manusia Prancis..


Terlalu telat untuk menulis cerita ini, terlalu cepat memutuskan untuk melupakan semua cerita tentang aku dan manusia Prancis itu...  Dan ternyata bukan hanya Danau Toba, Tangkahan pun punya cerita tentang kita,,...