4 hari menghilang dari kericuhan kota
Medan, dari tatapan sinis manusia-manusia disekitarku.. Kembali ke Padang,
melihat kembai potretku disana sini, melihat keriput wajah Ibuku seolah
memberikan tanda bahwa ia butuh seseorang untuk menjaganya.. Jum’at 6 April 2012 aku menginjakkan kaki
setelah hampir setegah tahun tidak menghirup udara ranah minang. Aku disambut
oleh udara segar tepi pantai, tak henti2nya memandang sekeliling menikmati raut
kota kelahiranku itu. Aku mulai berpetualang ke masa lalu untuk setiap tempat
yang aku singgahi. Hari pertama aku sempatkan untuk berziarah ke makam Ayahku, mengingatkan aku betapa masa laluku
bersamanya yang singkat dan mengharukan. Aku tidak tau harus berkata apa, hanya
terdiam melihat nisan yang sudah berusia 20 tahun.. Aku hanya bisa berkata, cepat atau lambat
nantinya kita semua akan berkumpul kembali dialam sana.
Perjalanan aku lanjutkan dengan melihat
sebuah halte merah dijalan Khatib Sulaiman. Halte tempat aku dengan sabar
menunggu sahabatku selesai bekerja dan menghabiskan waktu bersama. Aku selalu
duduk dihalte itu setiap pukul 5 sore. Menikmati mobil yang lalu lalang disana,
hingga akhirnya teguran hangatnya menggugah aku “hai bi, udah lama ya”,
kemudian aku akan berkata “hai, seperti biasa 15 menit yang lalu”. Lalu kami
pergi kepantai, menikmati sunset sambil minum jeruk dingin. Semua masih begitu
jelas dalam ingatanku. Aku mereka ulang kembali kejadian 4 tahun yang lalu, dan
mulai meneteskan air mata. Ya, pertanda aku sangat merindukannya, tawanya,
kesabarannya menjadi sahabatku dan ketabahannya dalam menjalani hidup. Ya, aku
merindukan senjaku..
Aku berjalan ke tepi pantai, tempat kami
selalu menghabiskan waktu. Aku sangat berharap bisa melupakan setiap orang yang
pernah menyentuh hatiku. Hembusan angin
pantai sore itu seolah membisikkan sesuatu “gimana kabarmu bi”.. Pandanganku
jauh kedepan menatap lautan. Lautan yang sama-sama kami pandangi 4 tahun yang
lalu. Aku putuskan untuk memesan 2 gelas jeruk dingin, seolah aku merasakan
kehadirannya dan aku sangat ingin berkata padanya “hai senja, apa kabarmu di
dunia langit”.. sejenak aku menikmati lantunan lagu Dionne Warwick “that’s what
friends are for” diantara hembusan angin senja dan tenggelamnya matahari di
tengah lautan. Aku begitu merindukan suasana ini, dan aku rasa inilah yang
selalu membuat aku memutuskan untuk kembali melihat kota kelahiranku. Karena
aku merindukan jeruk dingin, duduk di halte merah hingga akhirnya matahari itu
tenggelam, senjaku berlalu menjadi malam dan aku sadari aku sendirian. Aku
harus menerima kenyataan bahwa senjaku sudah berlalu dan aku terpaku menunggu
pagi..
Aku melangkah balik dan menyisakan gelas
jeruk dingin, seperti 4 tahun yang lalu aku selalu tidak bisa menghabiskan
minumanku dan ia akan berkata “bi,
habisin dulu lah minumnya baru kita pulang”..dan aku akan berkata “gk mau lagi,
yuk kabur”. Semua itu terjadi hampir setiap hari, dan hari ini aku kembali
mengenangnya dengan penuh air mata, ada yang sakit dihatiku, kenyataan bahwa
aku tidak bisa menerima kepergiannya. Kenyataan bahwa aku tidak bisa menemukan
hati seperti hatinya.. Tiba-tiba saja sore itu hatiku begitu pilu harus
meninggalkan gelas jeruk ku, aku memilih kembali meminum kedua jeruk itu sambil
membiarkan air mataku jatuh..lantai 2 resto ini tak pernah dikunjungi orang
lain,tidak ada bedanya dengan 4 tahun lalu dan pegawainya yang lama sangat
hafal dengan wajahku walau sudah 4 tahun berlalu. Dengan ramah ia menyapa “mana
temannya dek..” Aku tertegun karena tidak tau akan menjawab apa. Aku hanya
tersenyum kecil dan membayar tagihan makanku. Parkiran motor sore itu tidak
begitu banyak dipenuhi kendaraan, dan aku masih bisa melihat motornya terpakir
disana, ditempat parker favoritenya, dibawah pohon palem. Dia akan berkata “tunggu
bentar ya, ambil motor”..Aku melanjutkan perjalananku malam itu ke radio.
Studio kami tercinta.. Arsitekturnya sudah banyak berubah, namun aku masih
mencium bau khas kayu jati. Aku singgah ke kamar penyiar, tempat kami selalu
menghabiskan waktu untuk bercerita sebelum akhirnya tidur. Aku memasuki kamar
penyiar itu dengan sedikit gemetar, terasa seperti dia sedang menungguku disana
dan akan menegurku “eh, udah datang, sinilah cerita2”..lagi-lagi air mataku
menetes. Walaupun kasur dan bantalnya sudah memiliki cover yang berbeda.. Aku
sepertinya kembali mencium aroma segar parfumnya yang selalu ia semprotkan ke
bantalnya sebelum ia tidur. Sambil
mendendangkan lagu “crazy” dari Javier, ia mulai bersenandung, dan menata
tempat tidur itu. Dan aku dengan senang hati akan membuat 2 gelas susu coklat
panas untuk kami nikmati bersama.. Aku masih bisa membayangkan cangkir susu itu
diatas meja rias.
Aku beranjak ke ruang siaran, studio itu
terlihat lebih rapi dan sangat bagus, berkarpet, sejenak aku bisa mendengar
suaranya saat membacakan headline “Selamat pagi Mitra Pronews, Anda
Mendengarkan HeadLineNews pukul 10 WIB, saya Lia Mustika”.. dan ia mengawali
siarannya dengan sebuah lagu bagus milik Dave Gruisin “Haunting Me” atau Usher “
My Boo”..aku mulai melihat diriku duduk disampingnya dan menjadi anak training
yang sedang belajar siaran bersamanya.. Tempat ini, kota ini terlalu banyak
kenangan yang menyiksaku.. Aku menghela nafas panjang, dan mulai menikmati
suasana radio itu, seperti 4 tahun lalu. Namun, kali ini aku sendiri.. sendiri
saja..
Tepat pukul 09.00 PM aku memilih untuk
pergi, berjalan kaki sampai di persimpangan jalan utama. Percis seperti saat
aku selesai siaran, memilih jalan kaki bersama dan menikmati hujan yang turun,
dan malam itu pun hujan turun, seolah memberikan kesempatan padaku untuk benar-benar
merasakan satu sisi kehidupan masa laluku. Aku begitu menikmati setiap tetes
hujan yang membasahiku dan aku benar-benar merasakan bahwa ternyata mereka
semua hidup dalam hatiku dan aku menjaga mereka dengan sangat baik dalam
pikiran dan hatiku. Tidak sedikitpun aku abaikan, walau aku akhirnya menjadi manusia
yang hidup dimasa lalu. Aku hidup bukan dalam kehidupanku..ya..dan beginilah
aku..


