Selasa, 04 Desember 2012

Suddenly.. I remember "Senja"..


Sudddddennly, I remember “Senja”…

4 hari menghilang dari kericuhan kota Medan, dari tatapan sinis manusia-manusia disekitarku.. Kembali ke Padang, melihat kembai potretku disana sini, melihat keriput wajah Ibuku seolah memberikan tanda bahwa ia butuh seseorang untuk menjaganya..  Jum’at 6 April 2012 aku menginjakkan kaki setelah hampir setegah tahun tidak menghirup udara ranah minang. Aku disambut oleh udara segar tepi pantai, tak henti2nya memandang sekeliling menikmati raut kota kelahiranku itu. Aku mulai berpetualang ke masa lalu untuk setiap tempat yang aku singgahi. Hari pertama aku sempatkan untuk berziarah ke makam  Ayahku, mengingatkan aku betapa masa laluku bersamanya yang singkat dan mengharukan. Aku tidak tau harus berkata apa, hanya terdiam melihat nisan yang sudah berusia 20 tahun..  Aku hanya bisa berkata, cepat atau lambat nantinya kita semua akan berkumpul kembali dialam sana.

Perjalanan aku lanjutkan dengan melihat sebuah halte merah dijalan Khatib Sulaiman. Halte tempat aku dengan sabar menunggu sahabatku selesai bekerja dan menghabiskan waktu bersama. Aku selalu duduk dihalte itu setiap pukul 5 sore. Menikmati mobil yang lalu lalang disana, hingga akhirnya teguran hangatnya menggugah aku “hai bi, udah lama ya”, kemudian aku akan berkata “hai, seperti biasa 15 menit yang lalu”. Lalu kami pergi kepantai, menikmati sunset sambil minum jeruk dingin. Semua masih begitu jelas dalam ingatanku. Aku mereka ulang kembali kejadian 4 tahun yang lalu, dan mulai meneteskan air mata. Ya, pertanda aku sangat merindukannya, tawanya, kesabarannya menjadi sahabatku dan ketabahannya dalam menjalani hidup. Ya, aku merindukan senjaku..

Aku berjalan ke tepi pantai, tempat kami selalu menghabiskan waktu. Aku sangat berharap bisa melupakan setiap orang yang pernah menyentuh hatiku.  Hembusan angin pantai sore itu seolah membisikkan sesuatu “gimana kabarmu bi”.. Pandanganku jauh kedepan menatap lautan. Lautan yang sama-sama kami pandangi 4 tahun yang lalu. Aku putuskan untuk memesan 2 gelas jeruk dingin, seolah aku merasakan kehadirannya dan aku sangat ingin berkata padanya “hai senja, apa kabarmu di dunia langit”.. sejenak aku menikmati lantunan lagu Dionne Warwick “that’s what friends are for” diantara hembusan angin senja dan tenggelamnya matahari di tengah lautan. Aku begitu merindukan suasana ini, dan aku rasa inilah yang selalu membuat aku memutuskan untuk kembali melihat kota kelahiranku. Karena aku merindukan jeruk dingin, duduk di halte merah hingga akhirnya matahari itu tenggelam, senjaku berlalu menjadi malam dan aku sadari aku sendirian. Aku harus menerima kenyataan bahwa senjaku sudah berlalu dan aku terpaku menunggu pagi..

Aku melangkah balik dan menyisakan gelas jeruk dingin, seperti 4 tahun yang lalu aku selalu tidak bisa menghabiskan minumanku  dan ia akan berkata “bi, habisin dulu lah minumnya baru kita pulang”..dan aku akan berkata “gk mau lagi, yuk kabur”. Semua itu terjadi hampir setiap hari, dan hari ini aku kembali mengenangnya dengan penuh air mata, ada yang sakit dihatiku, kenyataan bahwa aku tidak bisa menerima kepergiannya. Kenyataan bahwa aku tidak bisa menemukan hati seperti hatinya.. Tiba-tiba saja sore itu hatiku begitu pilu harus meninggalkan gelas jeruk ku, aku memilih kembali meminum kedua jeruk itu sambil membiarkan air mataku jatuh..lantai 2 resto ini tak pernah dikunjungi orang lain,tidak ada bedanya dengan 4 tahun lalu dan pegawainya yang lama sangat hafal dengan wajahku walau sudah 4 tahun berlalu. Dengan ramah ia menyapa “mana temannya dek..” Aku tertegun karena tidak tau akan menjawab apa. Aku hanya tersenyum kecil dan membayar tagihan makanku. Parkiran motor sore itu tidak begitu banyak dipenuhi kendaraan, dan aku masih bisa melihat motornya terpakir disana, ditempat parker favoritenya, dibawah pohon palem. Dia akan berkata “tunggu bentar ya, ambil motor”..

Aku melanjutkan perjalananku malam itu ke radio. Studio kami tercinta.. Arsitekturnya sudah banyak berubah, namun aku masih mencium bau khas kayu jati. Aku singgah ke kamar penyiar, tempat kami selalu menghabiskan waktu untuk bercerita sebelum akhirnya tidur. Aku memasuki kamar penyiar itu dengan sedikit gemetar, terasa seperti dia sedang menungguku disana dan akan menegurku “eh, udah datang, sinilah cerita2”..lagi-lagi air mataku menetes. Walaupun kasur dan bantalnya sudah memiliki cover yang berbeda.. Aku sepertinya kembali mencium aroma segar parfumnya yang selalu ia semprotkan ke bantalnya sebelum ia tidur.  Sambil mendendangkan lagu “crazy” dari Javier, ia mulai bersenandung, dan menata tempat tidur itu. Dan aku dengan senang hati akan membuat 2 gelas susu coklat panas untuk kami nikmati bersama.. Aku masih bisa membayangkan cangkir susu itu diatas meja rias.

Aku beranjak ke ruang siaran, studio itu terlihat lebih rapi dan sangat bagus, berkarpet, sejenak aku bisa mendengar suaranya saat membacakan headline “Selamat siang Mitra Pronews, Anda Mendengarkan HeadLineNews pukul 10 WIB, saya …………”.. dan ia mengawali siarannya dengan sebuah lagu bagus milik Dave Gruisin “Haunting Me” atau Usher “ My Boo”..aku mulai melihat diriku duduk disampingnya dan menjadi anak training yang sedang belajar siaran bersamanya.. Tempat ini, kota ini terlalu banyak kenangan yang menyiksaku.. Aku menghela nafas panjang, dan mulai menikmati suasana radio itu, seperti 4 tahun lalu. Namun, kali ini aku sendiri.. sendiri saja..

Tepat pukul 09.00 PM aku memilih untuk pergi, berjalan kaki sampai di persimpangan jalan utama. Percis seperti saat aku selesai siaran, memilih jalan kaki bersama dan menikmati hujan yang turun, dan malam itu pun hujan turun, seolah memberikan kesempatan padaku untuk benar-benar merasakan satu sisi kehidupan masa laluku. Aku begitu menikmati setiap tetes hujan yang membasahiku dan aku benar-benar merasakan bahwa ternyata mereka semua hidup dalam hatiku dan aku menjaga mereka dengan sangat baik dalam pikiran dan hatiku. Tidak sedikitpun aku abaikan, walau aku akhirnya menjadi manusia yang hidup dimasa lalu. Aku hidup bukan dalam kehidupanku..ya..dan beginilah aku..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar